Beberapa bulan lalu, sebelum pandemik Covid-19 tentunya, saya bersama beberapa teman berkesempatan berlibur kembali ke Kota Semarang. Ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini selain menjadi pusat bisnis dan pemerintahan, nyatanya memiliki beragam pesona sebagai kota tujuan plesiran. Nah, salah satunya adalah kawasan wisata Kota Lama Semarang. Ya, kawasan ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda dan sering juga disebut Little Netherland. Kawasan yang dipenuhi gedung-gedung kuno peninggalan Belanda ini selalu menarik wisatawan untuk mengunjunginya. Karena pesonanya itu pula yang membawa kaki ini melangkah menyusurinya.

Sore itu, diantara pengunjung lainnya saya mengagumi arsitektur kuno yang sangat menawan. Salah satunya yang berada di pusat keramaian Kota Lama adalah wilayah Taman Srigunting. Berdekatan dengan taman ini ada bangunan yang ikonik yaitu Gereja Blenduk. Tidak hanya itu, di sekitarnya berdiri megah gedung-gedung kuno. Beberapa gedung tersebut telah difungsikan menjadi kafe dan resto. Ini dia, jawaban tepat setelah lelah berkeliling kawasan heritage, tentu saja tempat istirahat yang nyaman dengan sajian hidangan yang nikmat.

Dari beberapa kafe dan resto yang ada, kami memilih Javara Culture yang berada dekat dengan Gereja Blenduk. Kafe ini menempati gedung kuno milik Samudera Indonesia. Dari luar, nampak sangat menawan dengan jendela-jendela dan pintu  berukuran besar. Begitu masuk, kami disambut senyum ramah waitress yang mempersilakan kami duduk. Begitu duduk, mata ini langsung menyapu setiap jengkal interior yang rapi. Paduan meja kursi dari kayu dan rotan menambah kesan heritage. Apalagi saat melongok bagian lantai berwarna krem yang terbuat dari tegel bermotif sulur menambah kesan tempo dulu yang sangat kental. Sangat nyaman, begitulah kesan yang kami dapat.

Nah, soal menu makanan dan minuman, ini yang menarik perhatian kami. Seluruh menu yang ditawarkan Javara Culture ternyata makanan dan minuman otentik Nusantara yang semua bahan dasarnya organik dan di dapat dari lokal Indonesia. Tanpa menunggu lebih lama, kami segera memesan makanan dan minuman dari daftar buku menu. Saya pribadi memesan singkong goreng sebagai hidangan pembuka. Tak perlu waktu lama, singkong goreng sudah tersaji di depan mata. Ternyata, singkong goreng ini disajikan bersama sambal sebagai cocolannya. Rasa gurih dan lembut terpadu nikmat dengan pedas manis sambal membuat sepiring singkong ludes dalam sekejap.

Sebagai hidangan utama, saya memilih bandeng pallumara. Bandeng cabut duri dimasak dalam kuah kuning yang sangat segar dan nikmat. Hidangan khas dari Makassar ini memiliki cita rasa sedikit asam, pedas, dan gurih. Warna kuning kuahnya didapat dari kunyit yang menjadi salah satu bumbunya. Karena nikmatnya hidangan khas ini, membuat suapan demi suapan tak bisa berhenti hingga tandas semua yang ada di mangkuk. Semantara saya berkencan dengan bandeng pallumara, teman saya memesan menu bandeng keropok. Bandeng tanpa duri yang dibakar dan dibalur dengan sambal terasi dan dabu-dabu. Daging bandeng yang lembut dan gurih dengan aroma bakaran yang menggungah selera terasa sangat pas disantap bersama sambal terasi dan dabu-dabu.

Sebagai penutup, saya memesan menu yang menurut saya sangat menarik. Ya, hidangan penutup yang bukan hanya segar tapi juga nikmat. Saat disajikan, nampak dalam piring tersebut bubur ketan hitam, biji selasih, potongan pisang, kelapa muda, dan di atasnya ditambahkan satu scoop es krim vanilla.

Teman saya memesan teh bunga telang hangat sebagai  minumannya. Minuman ini sangat unik karena berwarna biru keunguan. Dan sebagai pamungkas kenikmatan sore itu, tentu saja saya menyeruput secangkir kopi single origin yang sangat nikmat. Jadi, enjoy your life!

Give a Comment